Pertama Kali Main Ke Bromo Tanpa Persiapan

Ini adalah sebuah cerita beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih bekerja di Kota Malang. Kota yang bagi saya penuh dengan… manusia yang menghuninya, tentu.

Ceritanya akan saya persingkat, sebab sudah banyak yang lupa. Jadi, malam itu teman-teman setempat kerja sudah berkumpul di tempat kerja saya, sekaligus tempat saya tidur disana, sendirian setiap malam ūüôĀ

..ya saya memang lagi curhat..

Saat itu, yang hendak pergi ke Bromo adalah saya, dan teman-teman. Ada 4 laki-laki termasuk saya, dan 1 perempuan.

Anggap saja sudah berangkat, ketika itu sudah malam, saya kurang ingat jam berapa, sepertinya mendekati tengah malam. Kenapa harus malam-malam berangkatnya? Sedangkan ada perempuan yang ikut. Sebab, tujuan ke Bromo waktu itu adalah untuk menyaksikan sunrise atau matahari terbit dari atas ketinggian.

Perjalanan waktu itu menggunakan 3 motor, saya membonceng Mbak Ana, Mas Fery dengan Mas yang saya lupa namanya, sebut saja Jamaludin, dan Mas Ansyah yang mengendarai motornya sendiri, sedang saya dan Mas Fery menggunakan motor trail waktu itu.

Perjalanan cukup panjang, dari tempat kerja menuju tumpang, yang merupakan jalur menuju ke Bromo. Sesampainya di Tumpang, perjalanan dilanjutkan menuju Poncokusumo, jalannya sudah mulai naik sedikit demi sedikit.

Diantara kami semua, tidak ada yang pernah ke Bromo waktu itu (melalui jalur tersebut), tanpa bantuan maps, hanya berbekal keinginan saja. Saya yang membonceng Mbak Ana waktu itu merasa adem panas, selain saya memang grogi kalau bonceng perempuan juga dipenuhi ketakutan, takut jika ada apa-apa di perjalanan nanti.

Jujur saja, persiapan saya waktu itu sangat tidak safety, mungkin karena saya meremehkan perjalanan menuju Bromo, saya hanya menggunakan kaos tipis dengan jaket buat main bukan khusus untuk di suhu yang dingin, serta hanya mengenakan celana training yang benar-benar tipis, dan tidak mengenakan kaos kaki apalagi sepatu.

Teman-teman yang lain juga tidak kalah sembrononya dengan saya, hanya Mbak Ana yang menurut saya lebih siap dengan perjalanan tersebut, ya mungkin karena Mbak Ana sudah sedikit banyak mengerti tentang gunung, maksudnya sudah sering muncak di gunung.

Ngga tau arah jalah menuju ke Bromo

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, saya dan teman-teman belum pernah ada yang menuju Bromo dari rute yang akan dilewati tersebut, sempat beberapa kali nyasar dan bertanya di penduduk setempat. Sedikit arahan yang diberikan, perjalanan terus kami lanjutkan.

Kemudian, sampailah di sebuah tempat, seperti tempat ngopi namun sudah tutup, sepi tidak ada siapapun disana. Saya sempet khawatir dan takut, berfikiran yang tidak-tidak, namun tidak lama kemudian perjalanan dilanjutkan.

Perjalanan cukup sepi, tidak tapi terlalu sepi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaran kami. Meskipun saya mengendarai motor trail, beberapa kali saya sempat kewalahan, karena selain medannya yang cukup nanjak, ditambah saya membonceng Mbak Ana, juga sebelumnya saya tidak pernah mengendarai motor di kawasan menanjak.

Beberapa saat kemudian, kami istirahat sejenak sambil mengisi perut, disebut tempat makan di pinggir jalan, tempat tersebut juga sepi, hanya saya dan teman-teman saja disana. Namun terasa lebih aman dibandingkan tempat sebelumnya.

Beberapa teman-teman saya memutuskan untuk tidur sejenak, termasuk Mbak Ana. Sedangkan saya tidak bisa tidur, takut kalau ketiduran malah kebablas, jadi saya terus terbangun sampai akhirnya sekitar pukul 3 pagi perjalanan dilanjutkan.

Menuruni jalan curam menuju lautan pasir Bromo

Setelah beberapa saat perjalanan, setelah perjalanan sebelumnya terus-terusan menanjak, akhirnya jalanan yang kami lalui menurun. Disaat jalanan menurun inilah udara dingin mulai merasuk, semakin turun semakin dingin, serta kabut juga semakin gelap dan menghalangi jarak pandang.

Saya benar-benar kedinginan, dan mulai panik bahkan berpikir yang tidak-tidak, mungkin waktu itu hampir kena hipotermia, tapi untungnya ketika merasa panik itu saya masih memiliki tanggung jawab, yakni Mbak Ana yang saya bonceng, saya berfikir saya ngga boleh panik, sebab ada nyawa orang di belakang saya.

Dari sebab saya membonceng Mbak Ana ini, saya berusaha positif, mencoba tenang, meskipun badan saya sudah mulai menggigil dan terasa kaku. Bahkan saya tidak bisa merasakan jari-jari tangan dan kaki, saking dinginnya. Terlebih semakin turun semakin dingin.

Perjalanan pun terus berlanjut, saya berfikir setelah sampai dasar nanti, mungkin akan lebih mudah. Namun saya salah, semakin turun hingga mencapai dasar tepatnya dilautan pasir, udaranya malah semakin ngga karuan, kabut dingin terlalu tebal, bahkan terasa menusuk-nusuk ditulang saya.

Alis mata saya bahkan sudah membeku, kaki dan tangan saya sudah tidak terasa. Selain itu, medan yang berpasir, ditambah saya yang tidak bisa menguasai jalanan, membuat saya berkali-kali terjatuh, bahkan saya sampai merasa ngga enak dengan Mbak Ana. Mbak Ana ini juga orangnya sopan banget, meskipun motor yang kami tumpangi terpental-pental tapi masih berusaha tidak pegangan dengan saya.

Waktu itu saya sudah tidak memikirkan apa-apa selain agar tidak jatuh, karena sudah terlalu kedinginan, jadi saya bilang ke Mbak Ana, “Mbak sampean nek arep ceblok cekelan nang aku ae gpp Mbak”, percayalah, saya sedang tidak mengambil kesempatan waktu itu. Karena pikiran saya waktu itu cuman “jangan sampai hipotermia”. Sebab waktu itu saya sudah sangat panik. Nafas pun terus saya atur untuk tidak tergesa-gesa, dengan tujuan mungkin dapat menjaga suhu badan saya.

Kehabisan bensin di tengah gurun pasir

Sesampainya ditengah-tengah gurun pasir, motor Mas Ansyah tiba-tiba mati, dan ternyata bensinnya kehabisan. Untungnya jarak kami tidak berjauhan, memang kami selalu berdekatan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.

Kebetulan selang beberapa waktu ketika kami sampai di gurun pasir tersebut, ada cukup banyak kendaraan jeep yang melintas. Waktu itu memang sudah agak siang, artinya sudah mendekati waktu matahari terbit.

Ketika itu, Mas Fery, Mbak Ana dan Mas Ansyah mencoba menghentikan beberapa jeep yang lewat, dengan tujuan meminta sedikit bbm yang mereka bawa. Sedangkan saya dan si Jamaludin berjaga di sekitar motor, sambil memberi tahu pengendara lain kalau di jalur itu ada kendaraan yang sedang berhenti, dan memberi sinyal kepada Mas Fery, Mas Ansyah dan Mbak Ana lokasi kami berhenti. Hal ini kami lakukan karena jarak pandangnya sangat terbatas oleh kabut.

Beberapa saat mencari bantuan dari jeep, ternyata tidak ada satupun yang memiliki persediaan bahan bakar, namun saya rasa bukan karena itu jeep tidak mau berhenti, namun karena mereka juga sedang membawa penumpang yang membayar mereka, tentu penumpang mereka lebih utama dari pada kami.

Selagi tidak ada jeep yang mau berhenti, ada Mas dan Mbak sebut saja Mas Tio dan Mbak Jodi, yang mungkin mereka adalah pasangan yang kemudian berhenti dan berbagi bahan bakarnya.

Masalahnya sekarang hanya satu, yakni bagaimana cara memindahkan bahan bakar dari motor Mas Tio itu ke tangki motornya Mas Ansyah.

Mas Fery mencoba memotong selang di motornya, namun masih kurang panjang. Akhirnya Mas Tio memotong selang di motornya yang lebih panjang untuk memindahkan bahan bakar di tangkinya ke tangki motor Mas Ansyah. Waktu itu kami tidak membutuhkan bahan bakar yang banyak, hanya sebutuhnya saja, namun Mas Tio ini mengisinya cukup banyak.

Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjutkan, Mas Tio dan Mbak Jodi akhirnya melanjutkan perjalanan dengan membimbing perjalanan kami. Namun sayang, karena jalannya yang susah, beberapa saat kemudian kami terpisah dengan Mas Tio dan Mbak Jodi tersebut. Yaa, semoga mereka selamat dan kebaikannya dibalas dengan kebaikan yang lebih baik..

Mendapatkan bantuan guide Bromo

Setelah terpisah dengan Mas Tio dan Mbak Jodi, perjalanan kami agak susah, sebab tidak mengetahui arah dan lokasi yang dituju. Selama perjalanan pun kejadian yang sebelumnya terus terulang, terjatuh, terpental dan ndlosor.

Hingga kemudian ada guide yang menawarkan diri untuk menunjukkan jalur yang akan dituju, tentu dengan upah. Mas Fery akhirnya melakukan nego dengan guide tersebut, dan karena waktu sudah tidak mumpuni, kami memutuskan untuk menuju lokasi sunrise paling dekat.

Keuntungan dari adanya guide ini, perjalanan lebih mudah. Karena selain terarah, guide tersebut juga menguasai jalalan, sehingga kami di lewatkan ke jalur yang pasirnya lebih padat ketimbang yang kami lalui sebelumnya.

Hingga.. Pada akhirnya kami sampai dilokasi view sunrise terdekat. Tempatnya memang tidak begitu wah, tapi sudah cukup untuk dinikmati..

Saat matahari sudah mulai memunculkan wajahnya, semburat warna orange menghiasi awan dan wajah-wajah ngantuk kami. Saya yang memang tidak tidur sama sekali tidak bisa menahan kantuk.

Beberapa saat setelah menyaksikan sunrise, terlihat Mas Fery juga sudah tersungkur di semak-semak dan tertidur, saya kemudian duduk di dekat Mas Fery, entah karena saking ngantuknya, saya tertidur sambil duduk, hingga terbangun karena jumplang. Jujur saya malu waktu itu, karena banyak orang yang melihat saya tertidur hingga jumplang wkwk.

Oke, anggap saja pagi menikmati sunrise itu sudah selesai..

Pulang setelah lelah menikmati indahnya Bromo

Setelah beberapa saat menikmati sunrise dan keindahan Gunung Bromo, sekaligus mengabadikan foto-foto bareng teman-teman, kamipun memutuskan untuk pulang dan beristirahat.

Perjalanan pulang terasa lebih mudah, karena sudah tidak berkabut, selain itu medan yang kami lalui lebih bersahabat, karena bisa membedakan medan yang rusak dan yang masih nyaman di lalui.

Hanya saja ketika perjalanan pulang, bukannya turun kembali ke gurun pasir, kami justru turun menuju arah Probolinggo. Sejak awal pulang saya sudah menyadari kalau jalurnya salah, tapi saya biarkan saja dulu sampe agak jauh. Setelah cukup jauh baru saya menyalip Mas Fery yang kebetulan di depan dan bilang kalau jalur tersebut turun menuju Probolinggo, wkwk.

Setelah kembali ke jalur yang benar, melewati pasir berbisik, dan menanjak kemudian melewati jalur yang malamnya kami lewati, sampailah kami di Poncokusumo, melewati air terjun Coban Pelangi dan terus menuju tempat kerja kami.

Di perjalanan, terlihat teman-teman sudah sangat lelah, termasuk saya, badan saya terasa pliket (lengket), juga agak panas, serta mata sudah terasa perih. Sedangkan Mbak Ana yang saya bonceng sepertinya ngantuk berat, beberapa kali badannya tidak sengaja jatuh ke punggung saya. Tentu saya tidak bisa melakukan apa-apa dan membiarkannya. Mau membangunkan ngga enak, ngga dibangunkan juga ngga enak. Untungnya lokasi tempat kerja sudah dekat.

Hingga beberapa saat kemudian, kami sudah sampai semua di tempat kerja. Waktu itu sudah lewat dhuhur, atau masih hendak dhuhur, saya kurang begitu ingat.

Sesampainya di tempat kerja, teman-teman pulang ke rumah masing-masing. Saya mbatin didalam hati “iki wong-wong opo gak kesel langsung muleh, bok yo lungguh disek, ngopi bek gletak,an disek”..

Dan setelah itu.. kemudian saya resign dari tempat kerja itu, tentu bukan karena hal apa-apa saya resign. Perjalanan ke Bromo waktu itu juga termasuk salam perpisahan dengan teman-teman ditempat kerja. Karena besoknya saya sudah bekerja disana lagi.

Sorenya setelah itu, saya sudah pergi dari tempat kerja.. Menuju Surabaya, bertemu Mas Andy di Terminal Bungurasih untuk menuju ke Ngawi, yang keesokan harinya dilanjutkan mendaki Gunung Lawu. Dan itu adalah pendakian pertama saya mendaki Gunung Lawu sampai ke Puncak..

Terima kasih teruntuk teman-teman di tempat kerja saya di Malang : Mas Fery, Mas Ansyah, Mas Ikrom, Mas Jalamuldin (bukan nama asli), Mbak Ana, Mbak Cece (bukan nama asli), juga Mbak Novi. Kepada Pak Kus, yang selalu menasehati kami, Pak Galih, Pak Vendx dan satunya lagi saya lupa, karena memang jarang ketemu.

Terima kasih juga saya ucapkan buat Seseorang di Malang, yang saat ini sudah tiada, semoga hidup sampean dialam sana penuh dengan kebahagian, juga keluarga yang sampean tinggalkan diberikan kebahagian dan ketabahan.. Jujur, aku rindu. Maaf jika aku lancang..

Pokoknya terima kasih buat semuanya ūüôā

Reza Ichsani
Reza Ichsani

Jangan mencintai sesuatu terlalu banyak ‚ú®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *